Jakarta, teckknow.com – Ketika Pragmata pertama kali diperkenalkan, reaksinya bukan sorak sorai berlebihan. Justru sebaliknya. Banyak orang terdiam. Bingung. Penasaran. Sebagian bahkan bertanya, “Ini game apa sebenarnya?”
Trailer perdananya singkat, atmosferiknya kuat, dan penuh simbol. Seorang pria berbalut baju antariksa, seorang gadis kecil misterius, dan lanskap futuristik yang terasa dingin sekaligus kosong. Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada teks berlebihan. Hanya kesan.
Sebagai pembawa berita yang mengikuti dunia game sejak lama, saya jarang melihat trailer yang sengaja menahan informasi seperti ini. Pragmata seolah tidak ingin menjelaskan dirinya. Ia ingin dirasakan.
Dan justru di situlah daya tariknya.
Di tengah industri game yang gemar memamerkan fitur, sistem, dan daftar panjang mekanik gameplay, Pragmata datang dengan pendekatan sunyi. Ia tidak berteriak. Ia berbisik. Tapi bisikan itu cukup membuat orang berhenti dan memperhatikan.
Apa Itu Pragmata dan Mengapa Begitu Sulit Dijelaskan

Secara resmi, Pragmata adalah game baru dari Capcom yang berlatar dunia futuristik, dengan elemen fiksi ilmiah yang kuat. Namun jika berhenti di situ, penjelasannya terasa terlalu dangkal.
Pragmata bukan game yang mudah dikotakkan. Ia bukan sekadar action, bukan sekadar adventure, dan jelas bukan game sci-fi biasa.
Dari apa yang diperlihatkan sejauh ini, Pragmata tampak menggabungkan eksplorasi, narasi berbasis atmosfer, dan interaksi karakter yang tidak biasa. Fokusnya bukan ledakan atau kecepatan, melainkan rasa ingin tahu.
Dalam banyak liputan game di Indonesia, Pragmata sering disebut sebagai “game penuh misteri”. Sebutan ini bukan tanpa alasan. Informasi resmi yang dirilis Capcom sangat terbatas, bahkan terkesan sengaja ditahan.
Tidak ada penjelasan detail tentang gameplay loop. Tidak ada uraian jelas tentang musuh. Bahkan dunia yang ditampilkan terasa seperti teka-teki.
Pragmata seolah ingin mengajak pemain untuk bertanya, bukan langsung bermain.
Duo Karakter Utama: Pria Antariksa dan Gadis Misterius
Salah satu aspek paling menarik dari Pragmata adalah hubungan antara dua karakter utamanya. Seorang pria dewasa berbalut baju antariksa dan seorang gadis kecil dengan kemampuan yang tampak tidak manusiawi.
Hubungan mereka tidak dijelaskan secara gamblang. Tapi dari potongan adegan, terlihat jelas bahwa mereka saling bergantung. Sang pria tampak melindungi. Sang gadis tampak… mengendalikan sesuatu.
Ada satu adegan yang cukup membekas. Sang gadis duduk di bahu karakter utama, lalu berinteraksi dengan teknologi di sekitarnya. Ini bukan visual biasa. Ini simbolik.
Banyak spekulasi muncul. Apakah gadis ini manusia? AI? Representasi kesadaran digital? Capcom tidak menjawab. Dan mungkin, memang belum ingin.
Dalam dunia game modern, karakter sering dijelaskan secara eksplisit. Latar belakang, motivasi, bahkan trauma masa lalu. Pragmata memilih jalur berbeda. Ia membiarkan pemain menafsirkan sendiri.
Pendekatan ini mengingatkan pada game-game naratif yang lebih mengandalkan pengalaman emosional daripada dialog panjang.
Dunia Futuristik Pragmata yang Terasa Sepi dan Dingin
Latar dunia Pragmata adalah salah satu elemen yang paling kuat. Kota futuristik, struktur raksasa, dan ruang terbuka luas yang nyaris kosong. Tidak ada keramaian. Tidak ada kehidupan yang terlihat normal.
Kesannya bukan masa depan yang megah, tapi masa depan yang ditinggalkan.
Sebagai jurnalis game, saya sering melihat game futuristik berlomba menampilkan teknologi canggih dan kota penuh cahaya. Pragmata justru mengambil arah sebaliknya. Dunia yang sunyi. Seolah manusia sudah lama pergi.
Kesan ini memunculkan banyak pertanyaan. Apa yang terjadi di dunia ini? Ke mana manusia menghilang? Apakah ini bumi, atau tempat lain?
Pragmata tidak memberi jawaban instan. Ia membangun atmosfer. Dan atmosfer itu berat, tapi menarik.
Lingkungan dalam Pragmata terasa seperti karakter itu sendiri. Diam, tapi berbicara. Sepi, tapi penuh cerita tersembunyi.
Gameplay Pragmata: Minim Informasi, Maksimal Spekulasi
Salah satu alasan Pragmata terus dibicarakan adalah minimnya informasi gameplay yang jelas. Capcom hanya menunjukkan potongan pendek, tanpa penjelasan sistem secara rinci.
Namun dari cuplikan yang ada, terlihat bahwa Pragmata bukan game action cepat ala hack and slash. Gerakan karakter terasa berat. Setiap langkah terasa punya bobot.
Ada elemen tembak-menembak, tapi bukan fokus utama. Ada interaksi dengan lingkungan, tapi bukan sekadar puzzle sederhana.
Yang menarik, beberapa adegan menunjukkan sang gadis memanipulasi lingkungan digital. Seolah ada lapisan realitas lain yang bisa diakses.
Ini memunculkan dugaan bahwa Pragmata akan menggabungkan gameplay fisik dan gameplay berbasis sistem atau hacking. Sebuah pendekatan yang jarang dieksplorasi secara mendalam.
Pragmata tampaknya ingin membuat pemain berpikir, bukan hanya bereaksi.
Penundaan Pragmata dan Efeknya pada Ekspektasi Gamer
Sejak diumumkan, Pragmata mengalami beberapa kali penundaan. Dalam industri game, ini bukan hal baru. Tapi untuk game yang informasinya sudah minim, penundaan justru menambah aura misterius.
Capcom secara terbuka menyatakan bahwa mereka membutuhkan waktu lebih untuk mewujudkan visi Pragmata. Pernyataan ini menarik, karena menunjukkan bahwa proyek ini bukan sekadar produk cepat.
Sebagian gamer frustrasi. Sebagian lain justru semakin penasaran.
Sebagai pembawa berita, saya melihat dua reaksi ini sebagai tanda bahwa Pragmata sudah berhasil menciptakan keterikatan emosional, bahkan sebelum rilis.
Game yang biasa-biasa saja jarang membuat orang peduli ketika ditunda. Pragmata berbeda. Ia sudah punya tempat di pikiran gamer.
Pragmata dalam Konteks Portofolio Capcom
Capcom dikenal lewat franchise besar: Resident Evil, Monster Hunter, Street Fighter. Semua punya identitas kuat dan basis penggemar besar.
Pragmata tampil sebagai sesuatu yang berbeda. Bukan lanjutan. Bukan reboot. Tapi IP baru yang berani.
Ini langkah berisiko. Tapi juga menunjukkan keberanian Capcom untuk bereksperimen.
Dalam sejarah industri game, IP baru sering menjadi ruang paling jujur bagi kreativitas. Pragmata tampak lahir dari ruang itu.
Ia tidak mencoba menyenangkan semua orang. Ia mencoba menjadi dirinya sendiri.
Dan dalam konteks jangka panjang, ini bisa menjadi salah satu karya paling berpengaruh Capcom, atau justru cult classic yang dikenang karena keberaniannya.
Mengapa Pragmata Menarik bagi Gamer Modern
Gamer modern tidak lagi hanya mencari hiburan cepat. Banyak yang mencari pengalaman. Cerita. Makna.
Pragmata tampaknya memahami ini.
Ia tidak menjanjikan kesenangan instan. Ia menjanjikan perjalanan. Dan perjalanan itu mungkin tidak nyaman, tidak jelas, tapi berkesan.
Dalam era game live service dan monetisasi agresif, Prag mata terasa seperti anomali. Sebuah game yang ingin dinikmati, bukan dieksploitasi.
Ini membuat Pragmata relevan, terutama bagi gamer yang sudah lelah dengan formula lama.
Spekulasi Cerita Pragmata: Antara AI, Kesadaran, dan Kemanusiaan
Tanpa konfirmasi resmi, cerita Prag mata menjadi lahan spekulasi. Banyak yang menduga tema utamanya adalah hubungan manusia dan kecerdasan buatan.
Gadis misterius sering dianggap sebagai representasi AI atau kesadaran digital. Sang pria mungkin manusia terakhir, atau penjaga sistem tertentu.
Tema ini bukan hal baru dalam fiksi ilmiah, tapi Prag mata menyajikannya dengan pendekatan sunyi, bukan dramatis.
Jika benar, maka Pragmata bisa menjadi refleksi tentang masa depan manusia. Tentang ketergantungan pada teknologi. Tentang apa arti menjadi manusia ketika dunia berubah.
Dan jika salah, spekulasi ini tetap menunjukkan satu hal: Prag mata memancing pemikiran.
Pragmata dan Ekspektasi yang Perlu Dijaga
Dengan semua misteri dan hype, ada satu hal penting yang perlu diingat. Pragmata mungkin tidak cocok untuk semua orang.
Ia kemungkinan lambat. Atmosferik. Penuh keheningan. Dan itu tidak selalu menyenangkan bagi semua gamer.
Namun justru di situlah kejujurannya. Prag mata tidak mencoba menyamar sebagai game lain.
Sebagai jurnalis, saya lebih menghargai game yang jujur dengan visinya daripada game yang mencoba memuaskan semua orang tapi kehilangan identitas.
Penutup: Pragmata sebagai Tanda Keberanian dalam Dunia Game
Pragmata bukan game yang mudah dipahami. Bukan game yang mudah dijelaskan. Tapi justru karena itu, ia penting.
Ia menunjukkan bahwa di tengah industri yang semakin padat, masih ada ruang untuk eksperimen. Untuk keheningan. Untuk cerita yang tidak langsung memberi jawaban.
Pragmata mungkin akan mengecewakan sebagian orang. Mungkin juga akan memukau sebagian lainnya.
Tapi satu hal pasti: Pragmata sudah berhasil melakukan sesuatu yang jarang. Membuat dunia gaming bertanya, bukan hanya menunggu.
Dan terkadang, pertanyaan itulah yang membuat sebuah game layak dinantikan.
Baca Juga Konten Dengan Artikel Terkait Tentang: Gaming
Baca Juga Artikel Dari: The Casting Of Frank Stone: Ketika Game Horor Menjadi Panggung Cerita Gelap yang Tidak Sekadar Menakutkan